Selama Jadi Jubir Presiden Jokowi, Hal Ini yang Kerap Bikin Fadjroel Rachman ‘Sakit Kepala’

Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman mengungkapkan hal yang membuat dirinya bisa sampai 'sakit kepala' saat bertugas. Menurut Fadjroel, tugasnya sebagai Jubir Presiden selama kurang lebih 2 tahun ini berjalan dengan baik. Terlebih, ia mengaku memiliki tim yang solid dalam mengelola komunikasi terkait hal apa yang akan disampaikan kepasa publik.

Namun, dibalik itu semua Fadjroel mengaku kerap dibuat pusing atau 'sakit kepala' saat ditanya para wartawan soal pelantikan pejabat maupun reshuffle kabinet. "Mungkin yang 'sakit kepala' itu adalah tiba tiba wartawan tanya, jam berapa pelantikan ini? Reshuffle ini gimana? Kemudian ini jam brapa?" ungkap Fadjroel. Ia mengatakan, bahwa sebenarnya sebagai seseorang yang bertugas di lingkungan Istana tentunya tahu agenda pelantikan serta reshuffle yang terjadi.

Namun, Fadjroel mengatakan tak mungkin membuka hal itu karena belum disampaikan secara resmi oleh Presiden. "Saya misalnya sudah tau karena di lingkungan Istana, tapi saya enggak boleh bicara bahwa reshuffle itu akan dilakukan terhadap siapa dan pukul berapa. Itu enggak boleh, karena hal tersebut menjadi pasti kalau presiden sudah mengumumkan dan presiden sudah mengambil sumpah," jelas Fadjroel. "Nah itu yang kadang kadang bikin sakit kepala. Terutama isu reshuffle," tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Fadjroel dicalonkan jadi duta besar. Diketahui, Presiden Jokowi telah mengirimkan daftar nama 33 calon duta besar (Dubes) RI di sejumlah negara sahabat kepada DPR RI. Dari 33 kandidat Dubes tersebut, ada nama Juru Bicara Presiden Jokowi, Fadjroel Rachman.

Melalui daftar itu, Fadjroel ditempatkan menjadi dubes RI untuk Kazakhstan merangkap Republik Tajikistan, berkedudukan di Nur Sultan. 1. Ade Padmo Sarwono. Untuk Kerajaan Yordania Hashimiah merangkap Palestina, berkedudukan di Amman.

2. Bebeb A.K. Djundjunan. Untuk Republik Yunani, berkedudukan di Athena. 3. Tatang B.U. Razak.

Untuk Republik Kolombia merangkap Antigua dan Barbuda, Barbados dan Federasi Saint Kitts dan Nevis, berkedudukan di Bogota. 4. Pribadi Sutiono. Untuk Republik Slowakia, berkedudukan di Bratislava.

5. Siswo Pramono. Untuk Australia merangkap Republik Vanuatu, berkedudukan di Canberra. 6. Triyogo Jatmiko.

Untuk Republik Persatuan Tanzania, merangkap Republik Burundi dan Republik Rwanda, berkedudukan di Dar Es Salaam. 7. Heru Subolo. Untuk Republik Rakyat Bangladesh merangkap Republik Demokratik Federal Nepal, berkedudukan di Dhaka.

8. Okto Dorinus Manik. Untuk Republik Demokratik Timor Leste, berkedudukan di Dili. 9. Mayjen TNI Gina Yoginda.

Untuk Republik Islam Afghanistan, berkedudukan di Kabul. 10. Sunarko. Untuk Republik Sudan, berkedudukan di Khartoum.

11. Dewi Tobing. Untuk Sri Lanka merangkap Republik Maladewa, berkedudukan di Kolombo. 12. Lena Maryana Mukti.

Untuk Kuwait, berkedudukan di Kuwait City. 13. Ghafur Akbar Dharmaputra. Untuk Ukraina merangkap Republik Armenia, dan Georgia, berkedudukan di Kyiv.

14. Rudy Alfonso. Untuk Republik Portugal, berkedudukan di Lisabon. 15. Muhammad Najib.

Untuk Kerajaan Spanyol merangkap United Nations World Tourism Organization (UNWTO) berkedudukan di Madrid. 16. Ardi Hermawan. Untuk Kerajaan Bahrain, berkedudukan di Manama.

17. Agus Widjojo. Untuk Republik Filipina merangkap Republik Kepulauan Marshall Islands dan Republik Palau, berkedudukan di Manila. 18. Ina Hagniningtyas Krisnamurthi.

Untuk Republik India merangkap Kerajaan Bhutan, berkedudukan di New Delhi. 19. Fadjroel Rachman. Untuk Kazakhstan merangkap Republik Tajikistan, berkedudukan di Nur Sultan.

20. Daniel TS Simanjuntak. Untuk Kanada merangkap International Civil Aviation Organization (ICAO), berkedudukan di Ottawa. 21. Mohamad Oemar.

Untuk Prancis merangkap Kepangeranan Andorra, Kepangeranan Monako, dan United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), berkedudukan di Paris. 22. Abdul Aziz. Untuk Kerajaan Arab Saudi merangkap Organization of Islamic Cooperation (OIC), berkedudukan di Riyadh.

23. Muhammad Prakosa. Untuk Italia merangkap Republik Malta, Republik Siprus, Republik San Marino, Food and Agriculture Organization (FAO), International Fund and Agricultural Development (IFAD), World Food Programme (WFP), dan International Institute for the Unification of Private Law (UNIDROIT), dan berkedudukan di Roma. 24. Gandi Sulistiyanto Soeherman.

Untuk Republik Korea, berkedudukan di Seoul. 25. Zuhairi Misrawi. Untuk Republik Tunisia, berkedudukan di Tunis.

26. Anita Lidya Luhulima. Untuk Republik Polandia, berkedudukan di Warsawa. 27. Rosan Perkasa Roeslani.

Untuk Amerika Serikat, berkedudukan di Washington D.C. 28. Fientje Suebu. Untuk Selandia Baru merangkap Samoa, Kerajaan Tonga, dan Kepulauan Cook dan Niue, berkedudukan di Wellington.

29. Damos Dumoli Agusman. Untuk Republik Austria merangkap Republik Slovenia, United Nations Office at Vienna (UNOV) yang terdiri dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL), United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA), United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), International Atomic Energy Agency (IAEA), Preparatory Commission for the Comprehensive Nuclear TestBan Treaty Organization (CTBTO), OPEC Fund for International Development (OFID) dan International Anti Corruption Academy (IACA), berkedudukan di Wina. 30. Suwartini Wirta.

Untuk Republik Kroasia, berkedudukan di Zagreb. 31. Derry M.I. Amman. Untuk Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Association of Southeast Asian Nation (ASEAN), berkedudukan di Jakarta.

32. Arrmanatha Nasir. Untuk Perserikatan Bangsa Bangsa dan Organisasi organisasi Internasional Lainnya, berkedudukan di New York. 33. Febrian A. Ruddyard.

Untuk Perserikatan Bangsa Bangsa, World Trade Organization (WTO), dan Organisasi organisasi Internasional Lainnya di Jenewa, berkedudukan di Jenewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.